IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Anggota Komisi VII DPR : Aksi Impor BBM Malah Buka Celah Mafia Migas

Anggota Komisi VII DPR : Aksi Impor BBM Malah Buka Celah Mafia Migas

Written By Indopetro portal on Monday, 24 October 2016 | 09:38

indoPetroNews- Selama dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada beberapa kebijakan di bidang energi patut diapresiasi. Apa saja yang patut diapresiasi?

“Salah satunya adalah pembubaran Petral, anak usaha Pertamina, sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi pengadaan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri,” kata anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Satya Widya Yudha, kepada wartawan, Minggu (23/10/2016) di Jakarta.

Kebijakan lain yang menonjol adalah penghapusan subsidi untuk premium, lalu subsidi solar dibuat menjadi subsidi tetap Rp 1.000/liter. Pemangkasan ini membuat keuangan negara lebih sehat.

Menurut Satya, upaya penyederhanaan izin pun patut diapresiasi. “Sudah banyak izin yang dihapus, dibuat online, maupun dibuat satu pintu di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) lewat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),” lanjutnya.

Di sisi lain, lanjut politisi Partai Golkar ini, beberapa kebijakan masih perlu didorong untuk diimplementasikan secara optimal. Salah satu yang paling menonjol adalah program konversi bahan bakar miyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). “Sudah saatnya pemerintah lebih serius dalam melakukan konversi, guna menekan importasi energi yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Aksi impor BBM malah membuka celah bagi para mafia migas untuk bermain di dalamnya,” tegasnya.

Dia menganggap pemerintah hingga kini belum fokus ke arah konversi tersebut kendati sudah mempunyai road map-nya. “Konversi seharusnya sudah harus dilakukan sejak 2012. Konversi BBM ke BBG di sektor transportasi akan langsung membuat penggunaan minyak mentah dan produk BBM akan terpangkas drastis,” imbuhnya. Dengan demikian pemerintah hanya fokus pada pemenuhan cadangan penyediaan energi pada BBG.

Lifting minyak bumi saat ini, kata Satya, sudah turun signifikan menyusul belum ditemukannya cadangan baru yang potensial. “Imbasnya, Indonesia bergantung terhadap minyak mentah dan produk BBM dari luar negeri. Sedangkan di sisi gas, lifting tercatat cukup stabil,” katanya. Namun penyaluran gas dari dalam negeri masih terkendala dengan minimnya infrastruktur sehingga alokasinya banyak diekspor ke luar negeri.

Menurut Satya, jika Indonesia sudah beralih ke BBG berarti kebutuhan crude berkurang jauh tapi untuk gasnya juga harus disiapkan cadangannya untuk jamin agar SPBG terisi, cadagan gas dalam bentuk liquefied atau LNG, harus ada LNG strorage. “Infrastruktur penyediaan gas bagi publik, harus menjadi prioritas. Tanpa infrastruktur yang memadai, konversi tak bisa berjalan baik,” tegasnya. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login