IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Pengusaha : Jangan Lupa, Kemajuan Saat Ini Dicapai Berkat Energi Fosil

Pengusaha : Jangan Lupa, Kemajuan Saat Ini Dicapai Berkat Energi Fosil

Written By Indopetronews on Wednesday, 30 November 2016 | 18:43

indoPetroNews- Saat ini penggunaan energi berbasis fosil mencapai 94%. Sedangkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) sekitar 6%. Namun seiring perkembangan, energi fosil makin lama semakin habis sedangkan cadangannya sangat terbatas.

"Kebutuhan energi saat ini pun semakin meningkat," kata Maritje Hutapea, Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan (EBTKE), Direktorat EBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam seminar Indonesian Economic Review 2016 Toward Energy Transformation, yang diselenggarakan Universitas Pertamina, pada Rabu (30/11/2016) di Jakarta.

Pemerintah pun telah mengantisipasi terkait pemenuhan terhadap energi. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 melakukan berbagai kebijakan strategis, diantaranya dengan metode konservasi energy, diversifikasi energy dan bauran energi/energy mix. "Ditetapkan bahwa EBT pada tahun 2025 sebesar 25%," kata Maritje. Selain itu juga ditargetkan pada tahun 2025 penggunaan energy berbasis fosil kurang dari 77%.

Maritje juga memaparkan soal potensi EBT di Indonesia. "Ada geothermal, energi surya, energi angin, microhydro dan lain-lainnya," ujar Maritje, seraya mengimbuhkan total potensi EBT sebesar 8.600 GW.

Sementara Ketua APPINDO, Sammy Hamzah, yang juga menjadi salah seorang pembicara dalam tersebut, mengingatkan agar tidak melupakan bahwa hasil-hasil pembangunan yang dinikmati saat ini adalah hasil dari energi minyak dan gas. "Pertamina bisa besar seperti sekarang pun juga berkat dari energi berbasis fosil," tegas Sammy.

Namun Sammy juga mengakui saat ini kondisi bisnis perminyakan kurang kondusif seiring fluktuatifnya harga minyak mentah di pasar dunia. Hal ini menyebabkan situasi investasi kurang menarik. "Sementara bisnis EBT pun keekonomiannya belum masuk bagi kalangan pengusaha," kata Sammy.

Sammy juga menyinggung selain soal minimnya eksplorasi minyak juga mengelaborasi iklim investasi migas di Tanah Air pun juga kurang menarik. Salah satu penyebabnya adalah reformasi 1998. "Terjadinya reformasi 98 mengakibatkan terjadinya desentralisasi dengan terbitnya kebijakan otonomi daerah (Otda). Otonomi daerah menghasilkan raja-raja kecil yang kadang kala tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. Walaupun sudah menjadi kebijakan pemerintah pusat tetapi belum tentu diterima oleh pemerintah daerah, misalnya soal kepengurusan usaha migas di daerah," ujar Sammy, sembari menambahkan bahwa regulasi soal energi juga tumpang-tindih. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login