IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Ada Beruang Merah Dibalik Kesepakatan OPEC di Wina

Ada Beruang Merah Dibalik Kesepakatan OPEC di Wina

Written By Indopetronews on Monday, 5 December 2016 | 20:53

indoPetroNews- Tercapainya titik temu yang berbuah disepakatinya pengurangan produksi minyak 1,2 juta barel sehari dalam sidang The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada Rabu pekan lalu di Wina Austria sejatinya tidak lepas dari sepak terjang Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pasalnya, orang nomor wahid di negeri Beruang Merah berperan signifikan dalam mempertemukan dua kutub kekuatan besar yang selama ini nyaris kepentingannya selalu bertolak belakang. Kedua kutub kekuatan itu adalah Arab Saudi dan Republik Islam Iran. Keduanya pun juga sama-sama anggota OPEC.

Kesepakatan juga dicapai dengan Rusia dengan negara produsen non-OPEC lainnya. Alhasil, total pengurangan produksi minyak secara global 1,8 juta barel per hari.

Sumber-sumber di OPEC dan non-OPEC mengungkapkan bahwa intervensi menjelang pertemuan OPEC di Wina datang dari Putin, Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, dan Presiden Iran Hasan Rouhani.

Peran Putin dalam menjembatani Riyadh dan Teheran sangat penting, menjadi bukti kian kuatnya pengaruh Rusia di Timur Tengah sejak negara Beruang Merah ini melakukan intervensi militer dalam perang di Suriah lebih dari setahun lalu.

Lobi itu dimulai ketika Putin berjumpa Pangeran Muhammad September lalu di sela pertemuan G20 di Cina. Keduanya sepakat bekerja sama untuk membantu memulihkan harga minyak mentah global, anjlok lebih dari setengah sejak pertengahan 2014. Rendahnya harga emas hitam dunia itu telah memangkas pendapatan Rusia dan Saudi.

Sama-sama rugi akibat harga minyak melorot membikin kesepakatan kedua negara itu mungkin dicapai, meski ada perbedaan politik sangat tajam antara Rusia dan Saudi soal Perang Suriah. Rusia setia menyokong rezim Presiden Basyar al-Assad, sedangkan Saudi getol mendukung kaum pemberontak ingin menumbangkan Assad, karena ingin menggusur pengaruh Iran di negara Syam itu.

"Putin menginginkan kesepakatan itu," kata seorang sumber dalam industri enegeri Rusia, menceritakan secara singkat isi pertemuan Putin dan Pangeran Muhammad. Perusahaan-perusahaan Rusia harus memotong jumlah produksi."

Semula, menjelang pertemuan OPEC di Wina, terdapat sejumlah penanda yang kurang menggembirakan. Pangeran Muhammad berkali-kali meminta Iran ikut dalam usulan pemotongan produksi. Hanya beberapa hari menuju Wina, Riyadh kelihatan ingin mundur dan mengancam menggenjot produksi minyak mereka jika Iran tidak mau bergabung. Tapi Putin berhasil membujuk Saudi. Dengan syarat, Iran tidak merayakan kemenangan atas Saudi soal kesepakatan ini.

Pembicaraan lewat telepon antara Putin dan Rouhani memuluskan jalan menuju kata sepakat. Menurut seorang sumber dekat dengan Khamenei, Rouhani dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh kemudian menghadap Khamenei buat meminta persetujuan.

"Dalam pertemuan itu, Khamenei menekankan pentingnya memperhatikan garis merah Iran, yakni tidak menyerah pada tekanan politik dan tidak menerima pengurangan produksi (atas minyak Iran) di Wina," ujar sumber itu.

Zanganeh menjelaskan strateginya dan Khamenei mengiyakan. Dia juga menggarisbawahi pentingnya lobi politik, khususnya dengan Putin. Khamenei juga menyetujuinya.

Tetapi Rabu (30/11/2016), Saudi menyepakati untuk mengurangi produksinya minyaknya, sebuah keputusan dianggap Menteri Energi Khalid al-Falih sebagai pukulan besar. Sedangkaan Iran dibolehkan mengerek sedikit produksinya.

Zanganeh tetap bertindak biasa selama pertemuan OPEC di Wina. Dia juga menyetujui kesepakatan itu malam sebelumnya, dengan bantuan Aljazair sebagai mediator. Dia berhati-hati agar hal ini tidak bocor. Setelah pertemuan, Zanganeh biasanya cerewet menolak berkomentar soal kemenangan Iran atas Saudi dalam kesepakatan pengurangan produksi minyak.

"Kami tegas," kata Zanganeh kepada stasiun televisi pemerintah Iran. "Pembicaraan lewat telepon antara Rouhani dan Putin memainkan peranan besar. Setelah telepon itu, Rusia mendukung pengurangan produksi."

Produsen minyak non-OPEC juga bersedia mengurangi produksi mereka hingga 0,6 juta barel per hari, di mana Rusia menyumbang pengurangan produksi minyak sekitar 0,3 juta barel. Keputuan Rusia ini yang pertama dalam 15 tahun terakhir. Azerbaijan dan Kazakhstan juga sepakat ikut dalam keputusan ini. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login