IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , , » Kepala Humas SKK Migas : Pemerintah Harus Ciptakan Iklim Investasi Menarik

Kepala Humas SKK Migas : Pemerintah Harus Ciptakan Iklim Investasi Menarik

Written By Indopetro portal on Tuesday, 13 December 2016 | 09:59

indoPetroNews- Potensi cadangan minyak dan gas bumi (migas) sejatinya masih cukup dan besar di Tanah Air. Betapa tidak, di Nusantara ini masih terdapat 74 cekungan yang belum dieksplorasi dari 136 cekungan. Lalu apa sebenarnya pangkal persoalan migas dewasa ini?

“Masalahnya adalah dari 74 cekungan tersebut data seismiknya sangat minim. Data pemboran sebelumnya juga sangat minim. Jadi harus ada pengorbanan dari pemerintah untuk mengalokasikan sebagian dari penerimaan negara dari migas untuk meningkatkan status dari 74 cekungan tersebut agar menjadi menarik bagi investor,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Taslim Z Yunus pada Sabtu (10/12/2016) di Jakarta.

Mengapa? “Karena dari sisi peluang sangat besar. Pun dari sisi demand pun juga besar. Karena pada tahun 2025 pemerintah menetapkan bahwa energy mix kita adalah 7,49 juta barrel oil equivalent per hari. Porsi dari migas adalah 44%. Which is itu adalah sekitar 3,5 juta barrel oil equivalent hanya untuk energi. Belum lagi untuk bahan bakar dan kebutuhan lainnya. Saat ini konsumsinya 2 juta barrel oil equivalent,”papar Taslim.

Tegasnya, lanjut Taslim, pemerintah harus mendorong peningkatan lifting minimun 3,5 juta barel minyak. “Ini hanya untuk energi. Belum termasuk bahan baku dan untuk industri lainnya,” katanya.

Untuk mendorong investasi migas, ungkapnya, yang biasa dilakukan pihak investor bila pemerintah tidak mau mengeluarkan uang, adalah melakukan tax konsolidasi antara blok dengan blok lainnya. Dari blok produksi ke blok yang eksplorasi. “Kemudian kita juga mendorong investasi dari laba bersih yang diterima oleh investor di Indonesia,” paparnya.

Sekarang ini, imbuh Taslim, peraturan perpajakan kita terhadap oil and gas ini corporate tax dengan brand profit tax atau deviden tax-nya bersifat final. Jadi, rata-rata sekarang tax-nya yang dibebankan kepada investor itu sekitar 44%, dengan tax yang ditandatangani kontrak waktu itu. “Kalau tax yang sekarang sekitar 40%,” ujarnya.

Dia menegaskan, kalau hanya memberlakukan corporate tax yang bersifat final, kemudian yang untuk brand profit tax-nya, tergantung dia (investor) mau mereinvestasi. “Kalau dia mau reinvestasi maka dia tidak dikenakan. Tapi kalau dia mau bawa ke negaranya ya harus dikenakan tax. Dari sini sebetulnya mendorong investasi supaya bagian dari investasi itu direinvestasikan lagi di Indonesia. Utamanya daerah yang masih open area,” papar Taslim.

Di samping itu, ungkapnya, bisa juga negara mempunyai participating interest di setiap blok yang akan ditawarkan. “Artinya cash call dari negara juga. Jadi, kita tidak mengandalkan 100% kepada investor asing atau swasta,” harap Taslim. Di Malaysia mimimum 25% setiap wilayah kerja itu dimiliki oleh Petronas. Begitupun di Norwegia dan negara-negara lainnya. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login