IndoPetroNews

Headlines News :
Home » , , » Kepala SKK Migas : SKK Migas Sudah Berubah, Tidak Seperti Sepuluh Tahun Silam

Kepala SKK Migas : SKK Migas Sudah Berubah, Tidak Seperti Sepuluh Tahun Silam

Written By Indopetro portal on Friday, 2 December 2016 | 10:22

indoPetroNews- Alokasi dana General Affairs (GA) di lingkungan industri hulu minyak dan gas bumi sebenarnya tidak terlalu besar ke cost recovery tetapi dampaknya sangat besar.

“Kita sangat memerlukan arah GA berkualitas dan efisien. Kalau kita bicara nilai uang jumlahnya sangat kecil tetapi kalau bicara persepsi politik sangat besar dan destruktif terhadap industri hulu minyak dan gas bumi,” kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), pada Kamis (1/12/2016) di Jakarta.

Menurut Amien, dirinya baru tahu dan paham gambaran keseluruhannya pada Rabu sore (30/11/2016). “Sebenarnya, sebelum-sebelumnya juga sudah melihat dampak destruktif ini. Tapi saya masih mencari-cari apa yang penyebabnya,” katanya.

Dia menceritakan bahwa dirinya baru berdiskusi dengan Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Ia dipanggil ke kantornya. “Sekalian dipanggil, saya juga ingin mengetahui apa yang menyebabkan dampak destruktif hulu migas. Dari diskusi tersebut saya mendapatkan gambaran. Gambaran serupa sebenarnya juga telah saya dapatkan dari acara-acara di beberapa kementerian,” paparnya.Jadi, lanjut Amien, ada gambaran begini, hulu migas itu cost recovery-nya boros sekali. “Perusahaan-perusahaan minyak kantornya bermewah-mewah. Travel ke mana-mana pakai kelas eksekutif. Travelling darat pakai mobil mewah. Nambal gigi saja harus ke New York,” tandasnya.

Amien juga mengakui, dirinya hanya mendengarkan saja apa yang disampaikan oleh Ibu Sri Mulyani. Setelah mendapatkan informasi yang cukup banyak, imbuh Amien, dirinya menyampaikan, “Barangkali yang Ibu lihat saat Ibu menjadi menteri sepuluh tahun yang lalu”.

Mengenai nambal gigi ke New York itu, kata Amien, juga dikutip oleh Bapak Menteri ESDM. Kemudian dikutip juga oleh kantor Menko Perekonomian. Jadi, lanjutnya, kesannya sangat destruktif. Sumbernya bukan dari Menteri Keuangan tetapi dari beberapa pihak.

Menurut Amien, dirinya juga menerangkan kepada Ibu Menteri Sri Mulyani, “Untuk berobat ke luar negeri bukan hanya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS). Personal SKK Migas pun, yang melakukan pemeriksaan paska operasi ginjal juga di Singapura, karena operasinya juga di Singapura. Tapi kalau bicara biaya, kami yakin kami mengendalikan biaya. Karena bagi yang tidak paham cost management untuk health insurance, maka yang dilihat di mana berobatnya. Tapi bagi kami tidak. Jadi kami melihatnya begini, bagaimana biaya itu dibayar. Jadi sistem yang ada di hulu migas dan juga ada di SKK Migas adalah dengan menggunakan insurance. Jadi yang masuk ke biaya adalah berapa yang dibayar untuk insurance. Perkara mau berobat di mana itu urusan insurance dan yang dicover insurancenya. Saya jelaskan begitu. Jadi mau berobat di New York atau pun di Arab Saudi atau di Singapura, itu situasional dan kasus per kasus. Tapi kendalinya ada di insurance”.

Kemudian, Amien juga memaparkan bahwa di SKK Migas ada dokter, yang memang tugasnya diantaranya mengawasi hal tersebut. “Sudah dianalisis juga apakah insurancenya menggunakan sistem ASO atau menggunakan sistem primier. Dari analisis kami, lebih murah ASO. Karenanya kami menggunakan ASO. Dengan penjelasan tersebut, Ibu Menteri Sri Mulyani mengerti dan mengetahui bahwa SKK Migas sudah berubah,” papar Amien.

Amien juga menerangkan terkait pertanyaan Ibu Sri Mulyani mengenai para ekspatriat, yang tinggal di apartemen atau di rumah yang mewah, yang sebulam bisa mencapai harga 50.000 USD. “Saya sampaikan, Kontraktor KKS itu mencari duit, bukan buang-buang duit. Saya tahu betul. SKK Migas tugasnya juga mencari duit untuk penerimaan negara. Bukan buang-buang duit. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sesuai permohonan, mau menyewa apartemen berapa pun harganya terserah mereka. Tapi yang masuk cost recovery, saat ini dibatasi sekian. Begitupun di Kontraktor KKS. Mau menyewa yang mahal terserah tapi yang menjadi beban kantor sekian. Dengan penjelasan demikian, Ibu Menteri Sri Mulyani juga bisa paham,” papar Amien.

Menurut Amien, Ibu Menteri Sri Mulyani, juga menanyakan soal kantornya yang bermewah-mewah. “Ibu Menteri, setahu saya, saya adalah Kepala SKK Migas yang pertama yang berkunjung ke kantor-kantor Kontraktor KKS. Sebelumnya tidak ada satu pun Kepala SKK Migas atau dulu BPMigas yang berkunjung ke kantornya Kontraktor KKS,” ungkap Amien.

Amien pun mengutarakan, “Begitu saya dilantik, saya langsung jadwalkan untuk bertemu dengan pihak Kontraktor KKS tetapi tidak di kantor SKK Migas. Saya maunya bertemu di kantor Kontraktor KKS. Sekali pertemuan sekaligus dengan beberapa Kontraktor KKS. Kemudian dijadwalkan untuk bertemu pada jam 09,00 pagi. Saya biasanya sudah datang pada pukul 08.30”.

“Kemudian saya minta untuk berkeliling kantornya. Dengan begitu saya akan tahu betul bagaimana manajemen kantornya. Terus saya jelaskan pada Ibu Menteri. Dari yang saya kunjungi, hampir semua kantor, kantornya berfungsi dan efisien. Jadi, tidak ada yang bermewah-mewah karena semuanya efisien. Ibu Menteri pun paham,” kata Amien.

Dari penjelasan tersebut, ungkap Amien, Ibu Menteri Sri Mulyani mengatakan, “Ok untuk urusan office management, operational management sudah oke.” (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login