IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » OPEC Bakal Gelar Pertemuan pada Mei 2017

OPEC Bakal Gelar Pertemuan pada Mei 2017

Written By Indopetro portal on Friday, 2 December 2016 | 15:31

indoPetroNews- The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) direncanakan akan menggelar pertemuan resmi pada 25 Mei 2017, setelah disepakatinya pemotongan produksi pada pertemuan Rabu (30/11/2016) di Wina, Austria. Pertemuan OPEC pada tahun 2017 diagendakan untuk membahas perpanjangan pemangkasan produksi hingga enam bulan ke depan.

Namun sebelum agenda pada 2017, pekan depan ini, OPEC juga bakal menggelar pertemuan dengan perwakilan negara-negara produsen Non-OPEC di Doha.

Seperti diketahui, pertemuan OPEC di Austria berhasil menyepakati pengurangan produksi sebanyak 1.2 juta barel per hari. Kesepakatan tersebut mulai berlaku pada Januari 2017, sesuai dengan persetujuan terdahulu yang dicapai di Aljazair.

Persetujuan ini memberikan pengecualian bagi Nigeria dan Libya, tetapi Irak -yang sebelumnya bersikeras menolak- mendapatkan jatah kuota untuk pertama kalinya sejak tahun 1990 an. Negeri yang beribukota di Baghdad itu harus mengurangi produksi sebanyak 210,000 bph dari total outputnya di Oktober.

Pada saat bersamaan, Iran berhasil memperoleh izin untuk menaikkan output hingga sekitar 3.8 juta bph. Justru Arab Saudi mesti memangkas output sebanyak 486,000 bph ke total 10.058 bph. Uni Emirat Arab dan Kuwait pun akan mengurangi output masing-masing sebanyak 139,000 bph dan 131,000 bph.

Sedangkan Negara Non-OPEC lainnya, Azerbaijan dan Kazakhstan, juga mengisyaratkan kesediaan untuk mengurangi produksi secara sukarela.

Sementara itu, analis energy security, Dirgo Purbo, mengemukakan bahwa alasan yang mendasar dibentuknya OPEC adalah untuk menstabilkan permintaan dunia atas minyak mentah dan kemudian pada 1971 menyatukan penggunaan mata uang dollar untuk transaksi minyak. "Seiring dengan permintaan dunia yang terus meningkat, OPEC sudah tidak dapat lagi berperan sebagai stabilisator. Seluruh dunia hanya tergantung kepada perannya Arab Saudi yang mempunyai kapasitas produksi 9,5 juta bph dan itupun masih memiliki kapasitas tambahan produksi sampai 2 juta bph," kata Dirgo kepada indoPetroNews.com Jumat (2/12/2016) di Jakarta.

Memang, lanjut Dirgo, Indonesia sempat menjadi anggota OPEC, tetapi dalam catatan sejarahnya, selalu tidak dapat mengantisipasi naiknya harga minyak yang dulu sempat menyentuh US$ 138 per barel. (Kini harga minyak mentah berkisar 40 USD per barel) Pemerintah, ketika itu, selalu hanya bisa terkejut-kejut seperti halnya negara negara pengimpor minyak lainnya.

"Dengan menggunakan data dari OPEC tahun 2005 dibawah ini, Dirgo memperlihatkan posisi kapasitas produksi dari masing masing negara anggota.

Berdasarkan pengamatan data dibawah ini, kiranya dapat disimpulkan bahwa anggota OPEC dapat dibagi menjadi empat katagori :

1. Negara yang memproduksi secara maksimal, bahkan sudah tidak peduli lagi dengan ketentuan kuota al;Libya, Algeria, Iran, Kuwait, Nigeria dan Qatar.

2. Negara dengan kapasitas dibawah kuota; Venezuela.

3. Negara yang masih mempunyai surplus kapasitas produksi diluar batas ketentuan kuota seperti United Arab Emirates dan Arab Saudi.

4. Negara dengan kategori special case seperti Irak dan Indonesia. Irak yang posisinya sudah tidak lagi masuk dalam kuota, sementara Indonesia merupakan negara satu satunya yang sudah menjadi net oil importer. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login