IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Pengamat & Pebisnis Migas : Gross Split, Ide Inovasi Brilian

Pengamat & Pebisnis Migas : Gross Split, Ide Inovasi Brilian

Written By Indopetro portal on Friday, 16 December 2016 | 15:57

indoPetroNews- Penamaan mekanisme baru Gross Split ditengarai bakal timbulkan misperception di kalangan investor yang akan berinvestasi di Indonesia.

"Saya usulkan namanya adalah "Modified PSC" karena masih berada dalam rezim kontrak PSC dimana akan dilakukan beberapa modifikasi termasuk menghilangkan skema cost recovery. Juga First Tranche Petroleum (FTP) dan beberapa pajak-pajak, seperti halnya dalam sistim tax and royalti," kata Dr Iwan Ratman, pengamat dan pelaku industri minyak dan gas bumi (migas) kepada wartawan, Jumat (16/12/2016) di Jakarta.

Wacana penerapan mekanisme Gross Split yang sudah dimodifikasi dengan berbagai parameter incentives oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah brilliant idea. "Hasil diskusi dengan Wamen (Wakil Menteri) maka kami sarankan untuk membuat kajian lebih dalam terlebih dahulu sebelum diterapkan," ujar Iwan.

Dengan kajian tersebut maka dapat diprediksi apakah sistem baru ini dapat memberikan pengaruh terhadap beberapa hal. Pertama, penerimaan negara (state revenues). Kedua, cadangan migas (reserves) dengan peningkatan kegiatan eksplorasi. Ketiga, iklim investasi.

Menurut penuturan Iwan, Bapak Wamen mengatakan memang tidak ada jaminan atas tercapainya ketiga tujuan di atas, namun penerapan sistem ini memberikan "harapan" tercapainya tujuan di atas.

Untuk memprediksi hal tersebut, lanjut Iwan, perlu dilakukan economic modeling serta intangable effects dalam bentuk beberapa analisa dengan metode risk based factor analysis, sensitivity analysis dengan menentukan preferences atau keberpihakan terhadap parameter objective di atas. "Jika tidak maka tujuan perubahan sistem ini penuh gambling. Selain itu maka dilakukan "Uji Klinis" sebelum benar-benar diterapkan secara penuh," cetusnya.

Seperti diketahui, selama ini driving force perubahan adalah seolah-olah nilai cost recovery semakin tinggi sementara penerimaan negara semakin rendah. Memberikan penilaian yang keliru terhadap "fenomena" ini, ungkap Iwan, akan memberikan solusi yang juga keliru.

"Dari dulu yang namanya penerimaan negara yang masuk ke dalam APBN pada sistem PSC adalah government take hasil dari net revenues to be split, dimana pemasukan negara sudah termasuk hasil dari First Tranche Petroleum (FTP). Sedangkan Cost recovery adalah penggantian semua biaya yang timbul sebelum produksi. Pengendalian cost recovery adalah parameter utama pada sistem yang ada sekarang di mana peran SKK Migas sangat krusial. Bila dianggap kerja SKK Migas tidak optimal dalam pengendalian cost recovery maka pembenahan maksimal perlu dilakukan," papar Iwan.

Namun demikian, imbuhnya, ide gross split bisa dikatakan sebagai inovasi brilian, namun harus dilakukan review study yang komprehensif sehingga ketika diterapkan dapat menjamin tujuan yang diharapkan atas perubahan sistem ini dpt tercapai (achievable target).

Dia berharap semoga penerapan sistem ini dapat memberikan suatu sistem yang lebih baik, terutama harapan akan meningkatkan penerimaan negara, meningkatkan cadangan migas dan memberikan iklim investasi yang lebih menarik pada investor. "Melangkah maju untuk tata kelola migas yang lebih baik," tegasnya. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login