IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Saat InI Migas Seolah-olah Tidak Strategis Lagi

Saat InI Migas Seolah-olah Tidak Strategis Lagi

Written By Indopetro portal on Tuesday, 13 December 2016 | 10:04

indoPetroNews- Sektor energy minyak dan gas bumi (migas) masih tetap menjadi bidang strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak, yang pengaturannya spesial dibanding sektor-sektor lain. Kendati demikian, belakangan ini terdapat beberapa masalah di sektor migas, utamanya yang terkait dengan penurunan harga minyak yang cukup signifikan.

“Dari harga 100 USD atau bahkan lebih per barel pertengahan 2014, dengan produksi shall oil di Amerika yang meningkat. Kemudian kalangan OPEC ada politik perang harga dengan pihak Amerika Serikat hingga kemudiann harga minyak turun. Bahkan menyebabkan turun di bawah 30 USD per dolar,” kata Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro dalam satu diskusi akhir pekan lalu di Jakarta.

Hal inilah, katanya, yang menyebabkan pihak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) yang dikoordinatori oleh pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengalami persoalan yang cukup besar. “Turunnya harga minyak mentah yang cukup besar menjadikan kendala tersendiri bagi pengembangan sektor ini,” ujarnya.

Lebih jauh dia menandaskan, saat ini migas bagi negara (meskipun secara relatif karena secara nominal tidak ada penurunan yang sangat signifikan) kontribusinya terhadap penerimaan negara mengalami penurunan. “Kalau di zaman Orde Baru dulu, antara 50% - 60% dari sektor migas, tapi belakangan ini menurun di bawah 10%.

Bahkan untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 targetnya sekitar Rp 80 triliunan. Kalau kita porsikan terhadap total penerimaan pada tahun yang sama kisarannya hanya sekitar 4,5%. Tentu kalau dilihat dari sisi penerimaan negara, kemudian seolah-olah ini menjadi kecil dan tidak strategis,” paparnya.

Namun, ungkapnya, bila dilihat dari aspek ekonomi nasional secara keseluruhan, sektor migas tetap menggerakkan perekonomian nasional. “Kita bisa bayangkan kalau Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak ada dalam waktu 2 minggu saja maka dapat dikatakan aktivitas perekonomian nasional, baik untuk produksi dan jasa serta untuk distribusi barang dan jasa, bahkan aktivitas sosial kemasyarakatan tidak akan bisa berjalan,” ucapnya.

Dalam konteks ini, Komaidi menganggap bahwa energi migas masih sangat relevan karena menguasai hajat hidup orang banyak/ untuk masyarakat luas. “Dan tentu masih strategis meskipun secara relatif kontribusinya terhadap penerimaan negara mengalami penurunan,” tegas Komaidi. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login