IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Indonesia Tidak Menarik (Lagi) Bagi Investor Migas

Indonesia Tidak Menarik (Lagi) Bagi Investor Migas

Written By Indopetro portal on Saturday, 7 January 2017 | 14:29

indoPetroNews- Pemerintahan JKW-JK tampaknya keliru menilai penyebab terpuruknya industri minyak dan gas bumi (migas) Indonesia. Apa saja kekeliruannya?

"Jangan dianggap hal ini terjadi karena faktor harga minyak rendah semata. Harus dimengerti bahwa Indonesia saat ini tidak menarik lagi di mata investor. Iklim investasi disini tidak kondusif," kata anggota Komisi VII DPR, Kardaya Warnika kepada media, Jumat (6/1/2017) di Jakarta.

Tidak sedikit perusahaan besar yang belakangan ini hengkang dari Indonesia. "Kalau memang karena harga minyak rendah, mengapa di negara lain mereka tidak hengkang? Penawaran Wilayah Kerja (WK) baru terbukti kurang peminat," tandas Kardaya. Kondisi semacam ini sangat berbahaya.

Mengapa? "Sebab, untuk memperbaikinya, butuh waktu lama karena terkait dengan pemulihan kepercayaan," terangnya.

Dia mengungkapkan bahwa upaya pencarian cadangan migas mengandalkan perusahaan besar karena faktor risiko yang tinggi dan kebutuhan dana sangat besar. Apalagi, lanjutnya, lahan eksplorasi di Indonesia sudah semakin sulit, yakni mengarah ke laut dalam dan remote.
Upaya penerapan gross split dimaksudkan untuk keluar dari jeratan Cost Recovery (CR). "Prinsip utama gross split adalah pembagian hasil antara pemerintah dan kontraktor dihitung dari produksi (gross), tidak dari laba seperti saat ini," ucanya. Dengan ini, imbuh Kardaya, diharapkan perhitungan yang ada menjadi lebih sederhana, transparan, dan menjamin kepastian penerimaan negara.

Dalam penerapannya, kata Kardaya, apakah bentuk kontrak akan dipakai, mengingat prinsip gross split dapat digunakan dalam berbagai bentuk sistem fiskal perminyakan. "Saat ini, sebaiknya tetap dulu memakai bentuk kontrak production sharing," ungkapnya.

Seperti diketahui, sistem production sharing contract (PSC) yang memakai CR, prioritas pertama pembagian basil diberikan bukan kepada pemerintah, melainkan kepada perusahaan (kontraktor) untuk mengembalikan CR plus insentif-insentif. Sisanya (equity to be split) baru dibagi antara pemerintah dan kontraktor. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login