IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Skema Gross Split Membuat Kontraktor Jungkir-Balik

Skema Gross Split Membuat Kontraktor Jungkir-Balik

Written By Indopetro portal on Tuesday, 31 January 2017 | 14:48

indoPetroNews- Suasana investasi minyak dan gas bumi (migas)  Tanah Air tidak menggembirakan lagi. Mengapa?

Kebijakan pemerintah yang tidak konsisten. "Ada PP tentang Gross Split yang mengubah sistem PSC cost recovery," kata anggota Komisi VII DPR, Satya Widya Yudha, dalam satu diskusi pada Selasa (31/1/2017) di Jakarta.

Acara diskusi ini juga menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya Kepala Humas SKK Migas Taslim Yunus, Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Kementerian Keuangan Goro Ekanto, dan Ketua Forum Pimpinan Redaksi Suryopratomo.

Hadir pula Rionald Silaban, Staf Ahli Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional membacakan keynote speech, mewakili Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Dirjen Migas Wiratmajapuja sebagai perwakilan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jonan Budi.

Menurut Satya Yudha, dalam pasal 6 Undang-Undang Migas disebutkan bahwa manajemen operasional ada di tangan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

"Dengan skema Gross Split maka pasal tersebut tidak berlaku lagi," cetusnya. Gross Split, lanjutnya hanya untuk memudahkan pihak Kementerian Keuangan karena bagian pemerintah sudah diambil di muka. "Tinggal pihak kontraktor yang harus jungkir-balik agar bisa memenuhi komitmen awalnya," tandasnya.

Dia juga menyatakan bahwa SKK Migas sebagai jantung industri hulu migas diisi oleh orang-orang yang berkualitas tinggi karena akan mengawasi para kontraktor.

Lebih jauh Satya berharap agar pemerintah memperhatikan dua hal di bisnis hulu migas di masa mendatang. Pertama, soal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak hanya 4%. Kedua, diskresi harus digunakan secara cermat.

Sedangkan Taslim memaparkan bahwa tantangan industri hulu migas makin tidak mudah. Mengapa? "Data seismik dan pemboran sangat minim," tandas Taslim seraya mengimbuhkan bahwa Indonesia masih mempunyai 128 cekungan, 18 yang berproduksi, 12 yang discovery dan 74 belum dieksplorasi.

Dia juga mengungkapkan saat ini terdapat 283 WK, 85 WK yang sudah produksi, 68 WK yang sedang produksi dan 14 WK sedang dalam pengembangan. Dari kurun tahun 2003 hingga 2017 terdapat 54 - 85 WK.

Taslim menegaskan hal lain yang perlu dilakukan agar investasi migas lebih atraktif adalah seharusnya ada konsolidasi biaya blok eksploitasi dan eksplorasi. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login