IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Pengembangan Biodiesel Indonesia "Lebih" Ketimbang Malaysia

Pengembangan Biodiesel Indonesia "Lebih" Ketimbang Malaysia

Written By Indopetro portal on Friday, 3 February 2017 | 10:00

indoPetroNews- Indonesia lebih maju ketimbang Malaysia dalam pengembangan program bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur dengan minyak kelapa sawit sebesar 20 persen. Mengapa?

"Malaysia mencampur solar dengan minyak kelapa sawit hanya 5 - 7 persen," kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dalam acara Pertemuan Nasional Sawit Indonesia, pada Kamis (2/2/2017) di Jakarta. Pihaknya kementerian juga akan mendorong industri otomotif Indonesia untuk menggunakan biodiesel.

"Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa negeri ini secara bertahap memanfaatkan energi alternatif sehingga dikemudian hari dapat mewujudkan kemandirian bidang energi," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Bayu Khrisnamurti menjelaskan terkait subsidi biodisel.

"Subsidi biodiesel pada tahun ini diproyeksikan Rp9,6 triliun lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu Rp10,7 triliun karena rerata harga minyak mentah sepanjang 2017 berada di kisaran US$50 – US$60 per barel. Hal tersebut, lanjut Bayu, lantaran harga minyak dunia pada tahun ini berada di kisaran US$50-US$60 per barel, sedangkan harga minyak sawit mentah (crude palm oil) berada di kisaran US$650-US$750 per ton.

Berdasarkan asumsi harga minyak mentah dan minyak kelapa sawit (CPO) tersebut, subsidi biodiesel pada 2017 sekitar Rp4.500-Rp5.500 per liter lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Pemerintah masih memberlakukan kewajiban bauran biodiesel berbasis sawit ke dalam solar dengan kadar 20% pada 2017.

Pemerintah juga menargetkan konsumsi biodiesel pada 2017 sebesar 4,6 juta kiloliter terdiri dari 2,5 juta kl solar bersubsidi dan 2,1 juta kl solar nonsubsidi.

"Sehingga kebutuhan dana untuk 2017 lebih kecil dari 2016 yakni Rp9,6 triliun," katanya.

Bayu menyebut, total dana sawit yang diproyeksikan terkumpul pada 2017 mencapai Rp10,3 triliun. Selain itu, BPDP Kelapa Sawit masih menyimpan dana dari hasil pungutan ekspor CPO tahun lalu Rp5,7 triliun. Dengan demikian, kebutuhan subsidi pada 2017 akan tercukupi. Pada 2015, dana pungutan ekspor CPO mencapai Rp11,7 triliun.

Bayu menambahkan, penguatan harga minyak mentah dan harga CPO relatif stabil membuat gap kedua komoditas itu semakin kecil sehingga subsidi biodiesel semakin rendah. "Perkiraannya pada 2017 selisih harga solar dan biodiesel akan lebih kecil dari Rp4.500-5.500 per liter." Realisasi penyaluran biodiesel pada 2016 hanya 2,7 juta kl lebih rendah dari target 2,9 juta kl. Padahal, target awal penyerapan biodiesel pada tahun lalu 3,3 juta kl, tetapi direvisi menjadi 2,9 juta kl. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login