IndoPetroNews

Headlines News :
Home » » Iklim Investasi Hulu Migas Tidak Atraktif

Iklim Investasi Hulu Migas Tidak Atraktif

Written By Indopetro portal on Thursday, 30 March 2017 | 15:00

indoPetroNews- Pemerintah berupaya agar iklim investasi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) aktraktif sehingga menarik minat para investor. Sudah menarikkah iklim investasi migas kita?

"Kenyataannya kita ini kalah atraktif. Pertama-tama kita ingin sharing data kita sebagai negara produsen dan konsumen migas," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) IGN Wiratmajapuja kepada sejumlah media, Kamis (30/3/2017) di Jakarta. Faktanya, konsumsi lebih besar dari produksi.

Bila dikatakan Indonesia kaya migas, lanjut Wiratmaja, mungkin saja. Namun kita menghabiskan lebih banyak minyak lagi.

Jika dibandingkan konsumsi produksi jelas kita miskin. "Terutama kita impor LPG. Sudh 65 prosen dari konsumsi LPG kita impor. Pun di sisi gas alam lumayanlah ya, konsumsi masih di bawah produksi. Yang gawat itu crude oil," tandas Wiratmaja. Indonesia masih dalam status importir BBM terbesar di dunia. Di sisi lain di hilir didorong untuk membangun kilang.

Dia juga mengutarakan bahwa bila mengacu pada pertumbuhan ekonomi dalam negeri, yaitu 5.3 prosen, maka bila naik 4 prosen saja (5.4) maka otomatis kebutuhan energi primer migas pun akan naik terus.

Wiratmaja mengemukakan bahwa data yang diperoleh dari SKK Migas tahun 2025 (10 tahun dari sekarang) tinggal 300,000 barel. "SKK Migas sudah enggak dibutuhkan lagi, tinggal sewa ruko aja. kecuali kita membuat ini datar atau naik. Inilah tantangan industri hulu migas Indonesia.

Sedangkan dari sisi gas, ungkap Wiratmaja, lumayan menarik. "Karena lebih ada space produksi ke depan. Walaupun setelah itu akan turun kecuali explorasi berjalan kenceng. Maka industri hulu migas pun akan jalan kenceng kalau tidak akan turun secara alami," papar Wiratmaja seraya mengimbuhkan bahwa Indonesia memiliki reserve lumayan besar tapi tidak cukup untuk konsumsi dalam negeri. "Oil reserve kecil sekali, gas lumayan, dan lokasi nya lebih banyak di daerah-daerah mature," ungkapnya.

Apakah potensinya ada? "Punya banyak sekali. Dari 100-an cekungan yang diperkirakan ada hydrocarbon. Dan baru 30-an yang diexplorasi cukup detail. Masalahnya lokasi di frontier. Artinya, kalau lokasi frontier tentu resiko tinggi dan modal besar sekali," tandas Khotimi. (Sofyan)
Share this post :
Comments
0 Comments

Post a Comment

www.indopetronews.com

 
Support : Web Master | Indokarmed | Web Hosting
Copyright © 2013. indoPetroNews - All Rights Reserved
Web Design Web Master Published Media Patner by Jurnalis Rakyat
Proudly powered by Portal Login